Pembangunan pertanian di Kota Tarakan memiliki peranan penting dan stategis dalam pembangunan nasional dan regional. Peran sektor pertanian bukan saja terhadap ketahanan pangan, tapi juga memberikan andil yang cukup besar terhadap perekonomian regional, sumber pendapatan dan kesempatan kerja. Meskipun sektor pertanian bukanlah sektor yang dominan di Kota Tarakan, namun selama periode 2000 sampai dengan 2008, sektor pertanian yang meliputi lima subsektor yang terdiri dari subsektor tanaman bahan makanan, tanaman perkebunan, peternakan dan hasil-hasilnya, kehutanan dan perikanan , menduduki peringkat ketiga sektor yang menyumbang kontribusi besar di Kota Tarakan. Kontribusi yang diberikan oleh sektor tersebut selalu berkisar antara 9 % ke atas, bahkan pada tahun 2008 mencapai 11, 30 %.
Meningkatnya pembangunan pertanian tentunya tidak bisa lepas dari peran petani baik sebagai penggarap dan manajer. Petani berperan dalam memelihara tanaman sehingga mendapatkan hasil ,disamping itu sebagai pengambil keputusan dalam pengelolaan usahataninya untuk lebih produktif yang dapat meningkatkan manfaat serta penerimaan hasil usahataninya.
Bagaimana agar petani di Kota Tarakan memiliki motivasi yang tinggi untuk meningkatkan produktivitasnya ? tentu dalam hal ini perlu bantuan dari luar baik secara langsung dalam bentuk bimbingan dan pembinaan maupun tidak langsung dalam bentuk insentif berupa jaminan tersedianya sarana produksi (input produksi) yang diperlukan petani dalam jumlah cukup dan harga terjangkau , jaminan pemasaran hasil, jaminan tersedianya kredit usahatani serta jaminan adanya kontinuitas informasi teknologi dengan mengoptimalkan kegiatan penyuluhan.
Namun demikian adanya insentif-insentif tersebut tidaklah berarti, jika dalam meningkatkan produktivitas pertanian petani semakin tergantung pada sumber-sumber dari luar lingkungannya yaitu petani dibuat bergantung kepada industri pertanian sehingga petani kehilangan kemandiriannya, sebagai contoh ; dalam melengkapi unsur hara yang dibutuhkan tanaman , petani bergantung pada pupuk kimia, petani juga bergantung pada bibit unggul yang tak bisa mereka bibitkan sendiri sehingga harus membelinya dengan harga mahal.
Kebergantungan itu telah membuat adanya mekanisasi penyedotan secara sistematis dan berkelanjutan dari pihak petani ke pihak industriawan. Mekanisme model ini menjadikan petani tak ubahnya hanya sebagai buruh tanam diatas lahannya sendiri dengan modal tanam ditanggung oleh pihak petani dan menempatkan resiko di pundak petani.
Dukungan dari pemerintah melalui subsidi maupun bantuan langsung memang dapat membantu permasalahan petani , namun demikian sifatnya sementara. Banyak petani yang terlena dan akhirnya menjadi ketergantungan, sehingga produktivitasnya menurun ketika subsidi maupun bantuan tidak diterimanya lagi. Masih banyaknya pengelolaan usahatani secara subsistem dapat juga menjadi kendala dalam keberhasilan dukungan pemerintah kepada petani, misalnya hasil yang diperoleh petani tidak digunakan untuk melanjutkan serta mengembangkan usahanya lagi, akan tetapi dipergunaakan untuk memenuhi kebutuhannya hidup sehari-hari.
Selanjutnya bagaimana membentuk petani-petani yang kreatif dan mandiri ?
Menurut Anton Apriantono, petani dikatakan mandiri jika memiliki kedaulatan mengatur dirinya sendiri, dimana petani sebagai subyek yang mampu menjalankan usaha taninya dengan kemampuannya sendiri tanpa bergantung pada pihak luar, petani mandiri dapat menjaga keberlanjutan usaha taninya karena petani memiliki pengetahuan dan kreatifitas dalam mengelola usaha taninya sehingga mampu menjaga produktifitas lahannya. Petani mandiri dapat menyediakan input dan sarana produksi sendiri serta dapat mengambil keputusan sendiri secara arif.
Subsidi atau bantuan yang diberikan pemerintah hendaknya diarahkan untuk mendorong kreatifitas dan kemandirian petani, sebagai contoh subsidi agar petani bisa dan mau membuat pupuk organik yaitu dengan penyediaan sarana, prasarana serta informasinya. Kemudian dalam mengatasi ketergantungan benih , petani sesungguhnya memiliki kemampuan untuk menangkarkan benih sendiri, banyak kelompok tani di negeri ini masih eksis dan sejahtera dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Dengan pemberian benih hibrida akan mematikan kreatifitas petani. Belum lagi permasalahan dari benih hibrida yang rentan terhadap hama dan penyakit (meski tidak pada semua wilayah).
Lebih lanjut petani agar senantiasa membangun kerja sama dan komunikasi yang intensif dengan petugas penyuluh, sesama petani, lembaga perguruan tinggi serta lembaga penelitian pertanian. Sehingga produktivitas tani dapat dimaksimalkan untuk ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Jadilah petani mandiri yang kreatif dan inovatif untuk membangun system budidaya yang produktif dan berdaya saing tanpa mengabaikan pentingnya ketahanan lingkungan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar