Nia Kurniasih Suryana
ABSTRAK
Penyuluhan Pertanian bertujuan membantu petani beserta keluarga agar dapat berkembang menjadi dinamis serta mampu untuk memperbaiki kehidupan dan penghidupannya dengan kekuatan sendiri dan pada akhirnya mampu menolong dirinya sendiri. Dalam mengubah masyarakat terdapat suatu kegiatan yang dikenal dengan adopsi inovasi, yaitu suatu proses dimana seorang petani memperhatikan, mempertimbangkan dan akhirnya menerima atau menolak suatu inovasi.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan (problemanalysis) proses adopsi inovasi di Kelompok Tani Cahaya Baru Kota tarakan. Dengan menggunakan metode analisis data Ziel Orienterte Projekt Plannung (ZOOP), dapat diketahui masalah yang terdapat dalam proses adopsi inovasi di Kelompok Tani Cahaya Baru Kota Tarakan adalah pendidikan petani yang masih rendah, sulit menerima inovasi baru, pengambilan keputusan dalam mengadopsi inovasi lambat. inovasi tidak sesuai dengan kebutuhan petani, jumlah penyuluh yang sedikit, jadwal penyuluhan yang belum terorganisir dengan baik serta intensitas penyuluhan yang masih kurang.
Better Living with "Agribisnis"
Senin, 12 Maret 2012
Rabu, 25 Januari 2012
Rabu, 14 Desember 2011
MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TANI
WILAYAH PERBATASAN DALAM MEMANFAATKAN
PUSAT LAYANAN INTERNET KECAMATAN “PLIK”
(Kasus di Pulau Sebatik Kalimantan Timur)
Dr.Ir.Adi Sutrisno,MP
Nia Kurniasih S, SP.MP
Dewi Elviana, SP.M.Si
ABSTRAK
Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Ketertinggalan secara ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Sebatik dipicu oleh minimnya infrastruktur dan aksesibilitas yang tidak memadai, seperti: (1) jaringan jalan dan angkutan perhubungan darat maupun sungai yang kurang memadai; (2) prasarana dan sarana komunikasi yang relatif minim; (3) ketersediaan sarana dasar sosial dan ekonomi seperti pusat kesehatan masyarakat, sekolah, dan pasar juga sangat terbatas. Kondisi inilah yang semestinya mendorong bergulirnya berbagai program pemberdayaan petani di daerah perbatasan, khususnya di Pulau Sebatik. Oleh karenanya, pentingnya peranan Tekonologi Informasi dan Komukasi dalam wujud internet bagi pemberdayaan masyarakat masyarakat di wilayah perbatasan menjadi sebuah keniscayaan, sehingga program strategis Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) menjadi sesuatu yang menjawab kebutuhan masyarakat. Dalam rangka memberi dukungan nyata terhadap pencapaian keberhasilan program PLIK maka pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan PLIK sangat diperlukan. Namun pemberdayaan masyarakat, khususnya masyarakat tani wilayah perbatasan dalam memanfaatkan PLIK perlu strategi, pendekatan, lembaga pendukung, sarana dan prasarana, serta dana agar pelaksanaannya dapat berjalan secara optimal.
WILAYAH PERBATASAN DALAM MEMANFAATKAN
PUSAT LAYANAN INTERNET KECAMATAN “PLIK”
(Kasus di Pulau Sebatik Kalimantan Timur)
Dr.Ir.Adi Sutrisno,MP
Nia Kurniasih S, SP.MP
Dewi Elviana, SP.M.Si
ABSTRAK
Kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Ketertinggalan secara ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat Kecamatan Sebatik dipicu oleh minimnya infrastruktur dan aksesibilitas yang tidak memadai, seperti: (1) jaringan jalan dan angkutan perhubungan darat maupun sungai yang kurang memadai; (2) prasarana dan sarana komunikasi yang relatif minim; (3) ketersediaan sarana dasar sosial dan ekonomi seperti pusat kesehatan masyarakat, sekolah, dan pasar juga sangat terbatas. Kondisi inilah yang semestinya mendorong bergulirnya berbagai program pemberdayaan petani di daerah perbatasan, khususnya di Pulau Sebatik. Oleh karenanya, pentingnya peranan Tekonologi Informasi dan Komukasi dalam wujud internet bagi pemberdayaan masyarakat masyarakat di wilayah perbatasan menjadi sebuah keniscayaan, sehingga program strategis Pusat Layanan Internet Kecamatan (PLIK) menjadi sesuatu yang menjawab kebutuhan masyarakat. Dalam rangka memberi dukungan nyata terhadap pencapaian keberhasilan program PLIK maka pemberdayaan masyarakat dalam pemanfaatan PLIK sangat diperlukan. Namun pemberdayaan masyarakat, khususnya masyarakat tani wilayah perbatasan dalam memanfaatkan PLIK perlu strategi, pendekatan, lembaga pendukung, sarana dan prasarana, serta dana agar pelaksanaannya dapat berjalan secara optimal.
Sabtu, 29 Oktober 2011
MEMBANGUN PETANI KREATIF DAN MANDIRI DI KOTA TARAKAN
Pembangunan pertanian di Kota Tarakan memiliki peranan penting dan stategis dalam pembangunan nasional dan regional. Peran sektor pertanian bukan saja terhadap ketahanan pangan, tapi juga memberikan andil yang cukup besar terhadap perekonomian regional, sumber pendapatan dan kesempatan kerja. Meskipun sektor pertanian bukanlah sektor yang dominan di Kota Tarakan, namun selama periode 2000 sampai dengan 2008, sektor pertanian yang meliputi lima subsektor yang terdiri dari subsektor tanaman bahan makanan, tanaman perkebunan, peternakan dan hasil-hasilnya, kehutanan dan perikanan , menduduki peringkat ketiga sektor yang menyumbang kontribusi besar di Kota Tarakan. Kontribusi yang diberikan oleh sektor tersebut selalu berkisar antara 9 % ke atas, bahkan pada tahun 2008 mencapai 11, 30 %.
Meningkatnya pembangunan pertanian tentunya tidak bisa lepas dari peran petani baik sebagai penggarap dan manajer. Petani berperan dalam memelihara tanaman sehingga mendapatkan hasil ,disamping itu sebagai pengambil keputusan dalam pengelolaan usahataninya untuk lebih produktif yang dapat meningkatkan manfaat serta penerimaan hasil usahataninya.
Bagaimana agar petani di Kota Tarakan memiliki motivasi yang tinggi untuk meningkatkan produktivitasnya ? tentu dalam hal ini perlu bantuan dari luar baik secara langsung dalam bentuk bimbingan dan pembinaan maupun tidak langsung dalam bentuk insentif berupa jaminan tersedianya sarana produksi (input produksi) yang diperlukan petani dalam jumlah cukup dan harga terjangkau , jaminan pemasaran hasil, jaminan tersedianya kredit usahatani serta jaminan adanya kontinuitas informasi teknologi dengan mengoptimalkan kegiatan penyuluhan.
Namun demikian adanya insentif-insentif tersebut tidaklah berarti, jika dalam meningkatkan produktivitas pertanian petani semakin tergantung pada sumber-sumber dari luar lingkungannya yaitu petani dibuat bergantung kepada industri pertanian sehingga petani kehilangan kemandiriannya, sebagai contoh ; dalam melengkapi unsur hara yang dibutuhkan tanaman , petani bergantung pada pupuk kimia, petani juga bergantung pada bibit unggul yang tak bisa mereka bibitkan sendiri sehingga harus membelinya dengan harga mahal.
Kebergantungan itu telah membuat adanya mekanisasi penyedotan secara sistematis dan berkelanjutan dari pihak petani ke pihak industriawan. Mekanisme model ini menjadikan petani tak ubahnya hanya sebagai buruh tanam diatas lahannya sendiri dengan modal tanam ditanggung oleh pihak petani dan menempatkan resiko di pundak petani.
Dukungan dari pemerintah melalui subsidi maupun bantuan langsung memang dapat membantu permasalahan petani , namun demikian sifatnya sementara. Banyak petani yang terlena dan akhirnya menjadi ketergantungan, sehingga produktivitasnya menurun ketika subsidi maupun bantuan tidak diterimanya lagi. Masih banyaknya pengelolaan usahatani secara subsistem dapat juga menjadi kendala dalam keberhasilan dukungan pemerintah kepada petani, misalnya hasil yang diperoleh petani tidak digunakan untuk melanjutkan serta mengembangkan usahanya lagi, akan tetapi dipergunaakan untuk memenuhi kebutuhannya hidup sehari-hari.
Selanjutnya bagaimana membentuk petani-petani yang kreatif dan mandiri ?
Menurut Anton Apriantono, petani dikatakan mandiri jika memiliki kedaulatan mengatur dirinya sendiri, dimana petani sebagai subyek yang mampu menjalankan usaha taninya dengan kemampuannya sendiri tanpa bergantung pada pihak luar, petani mandiri dapat menjaga keberlanjutan usaha taninya karena petani memiliki pengetahuan dan kreatifitas dalam mengelola usaha taninya sehingga mampu menjaga produktifitas lahannya. Petani mandiri dapat menyediakan input dan sarana produksi sendiri serta dapat mengambil keputusan sendiri secara arif.
Subsidi atau bantuan yang diberikan pemerintah hendaknya diarahkan untuk mendorong kreatifitas dan kemandirian petani, sebagai contoh subsidi agar petani bisa dan mau membuat pupuk organik yaitu dengan penyediaan sarana, prasarana serta informasinya. Kemudian dalam mengatasi ketergantungan benih , petani sesungguhnya memiliki kemampuan untuk menangkarkan benih sendiri, banyak kelompok tani di negeri ini masih eksis dan sejahtera dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Dengan pemberian benih hibrida akan mematikan kreatifitas petani. Belum lagi permasalahan dari benih hibrida yang rentan terhadap hama dan penyakit (meski tidak pada semua wilayah).
Lebih lanjut petani agar senantiasa membangun kerja sama dan komunikasi yang intensif dengan petugas penyuluh, sesama petani, lembaga perguruan tinggi serta lembaga penelitian pertanian. Sehingga produktivitas tani dapat dimaksimalkan untuk ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Jadilah petani mandiri yang kreatif dan inovatif untuk membangun system budidaya yang produktif dan berdaya saing tanpa mengabaikan pentingnya ketahanan lingkungan.
Meningkatnya pembangunan pertanian tentunya tidak bisa lepas dari peran petani baik sebagai penggarap dan manajer. Petani berperan dalam memelihara tanaman sehingga mendapatkan hasil ,disamping itu sebagai pengambil keputusan dalam pengelolaan usahataninya untuk lebih produktif yang dapat meningkatkan manfaat serta penerimaan hasil usahataninya.
Bagaimana agar petani di Kota Tarakan memiliki motivasi yang tinggi untuk meningkatkan produktivitasnya ? tentu dalam hal ini perlu bantuan dari luar baik secara langsung dalam bentuk bimbingan dan pembinaan maupun tidak langsung dalam bentuk insentif berupa jaminan tersedianya sarana produksi (input produksi) yang diperlukan petani dalam jumlah cukup dan harga terjangkau , jaminan pemasaran hasil, jaminan tersedianya kredit usahatani serta jaminan adanya kontinuitas informasi teknologi dengan mengoptimalkan kegiatan penyuluhan.
Namun demikian adanya insentif-insentif tersebut tidaklah berarti, jika dalam meningkatkan produktivitas pertanian petani semakin tergantung pada sumber-sumber dari luar lingkungannya yaitu petani dibuat bergantung kepada industri pertanian sehingga petani kehilangan kemandiriannya, sebagai contoh ; dalam melengkapi unsur hara yang dibutuhkan tanaman , petani bergantung pada pupuk kimia, petani juga bergantung pada bibit unggul yang tak bisa mereka bibitkan sendiri sehingga harus membelinya dengan harga mahal.
Kebergantungan itu telah membuat adanya mekanisasi penyedotan secara sistematis dan berkelanjutan dari pihak petani ke pihak industriawan. Mekanisme model ini menjadikan petani tak ubahnya hanya sebagai buruh tanam diatas lahannya sendiri dengan modal tanam ditanggung oleh pihak petani dan menempatkan resiko di pundak petani.
Dukungan dari pemerintah melalui subsidi maupun bantuan langsung memang dapat membantu permasalahan petani , namun demikian sifatnya sementara. Banyak petani yang terlena dan akhirnya menjadi ketergantungan, sehingga produktivitasnya menurun ketika subsidi maupun bantuan tidak diterimanya lagi. Masih banyaknya pengelolaan usahatani secara subsistem dapat juga menjadi kendala dalam keberhasilan dukungan pemerintah kepada petani, misalnya hasil yang diperoleh petani tidak digunakan untuk melanjutkan serta mengembangkan usahanya lagi, akan tetapi dipergunaakan untuk memenuhi kebutuhannya hidup sehari-hari.
Selanjutnya bagaimana membentuk petani-petani yang kreatif dan mandiri ?
Menurut Anton Apriantono, petani dikatakan mandiri jika memiliki kedaulatan mengatur dirinya sendiri, dimana petani sebagai subyek yang mampu menjalankan usaha taninya dengan kemampuannya sendiri tanpa bergantung pada pihak luar, petani mandiri dapat menjaga keberlanjutan usaha taninya karena petani memiliki pengetahuan dan kreatifitas dalam mengelola usaha taninya sehingga mampu menjaga produktifitas lahannya. Petani mandiri dapat menyediakan input dan sarana produksi sendiri serta dapat mengambil keputusan sendiri secara arif.
Subsidi atau bantuan yang diberikan pemerintah hendaknya diarahkan untuk mendorong kreatifitas dan kemandirian petani, sebagai contoh subsidi agar petani bisa dan mau membuat pupuk organik yaitu dengan penyediaan sarana, prasarana serta informasinya. Kemudian dalam mengatasi ketergantungan benih , petani sesungguhnya memiliki kemampuan untuk menangkarkan benih sendiri, banyak kelompok tani di negeri ini masih eksis dan sejahtera dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Dengan pemberian benih hibrida akan mematikan kreatifitas petani. Belum lagi permasalahan dari benih hibrida yang rentan terhadap hama dan penyakit (meski tidak pada semua wilayah).
Lebih lanjut petani agar senantiasa membangun kerja sama dan komunikasi yang intensif dengan petugas penyuluh, sesama petani, lembaga perguruan tinggi serta lembaga penelitian pertanian. Sehingga produktivitas tani dapat dimaksimalkan untuk ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Jadilah petani mandiri yang kreatif dan inovatif untuk membangun system budidaya yang produktif dan berdaya saing tanpa mengabaikan pentingnya ketahanan lingkungan.
Selasa, 25 Oktober 2011
STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN DI WILAYAH PERBATASAN
Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Bahkan warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus. Demikian pula warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.
Untuk memenuhi hak warga negara, pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.
Untuk mengejar ketertinggalan dunia pendidikan baik dari segi mutu dan alokasi anggaran pendidikan dibandingkan dengan negara lain, UUD 1945 mengamanatkan bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Dengan kenaikan jumlah alokasi anggaran pendidikan diharapkan terjadi pembaharuan sistem pendidikan nasional yaitu dengan memperbaharui visi, misi, dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Sesuai dengan visi tersebut, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Kondisi dan Masalah Pendidikan di Wilayah Perbatasan
Ironis. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi pendidikan kita di daerah perbatasan. Betapa tidak, ketimpangan kualitas pendidikan di kota dengan di daerah sudah terjadi sedemikian rupa sehingga cerita tentang sekolah rubuh di daerah perbatasan atau cerita tentang guru yang lari ke negara tetangga, bukan sekedar mitos belaka. Selanjutnya, untuk memperoleh pemahaman secara lebih mendalam, permasalahan ini dapat kita tinjau dari sudut pandang hak dan kewajiban warga negara.
Melihat kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, sulit untuk membuat gambaran umum untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya. Jika sekilas kita melihat pada sekolah-sekolah unggulan yang ada di kota, mungkin kita bisa berbangga dengan kondisi pendidikan kita saat ini. Sekolah-sekolah tersebut sudah sangat mapan dalam hal fasilitas dan kualitas. Para murid dan guru dari sekolah sekolah elit selalu dimanja dengan fasilitas pendidikan yang lengkap dan mutakhir. Segala proses pembelajaran dijalankan dengan nyaman dan mudah sehingga dapat menghasilkan murid yang berkualitas. Namun, ketika kita melihat kondisi pendidikan di daerah perbatasan, keadaan tersebut sungguh berbanding terbalik.
Tak banyak yang mengetahui atau peduli dengan nasib pendidikan anak-anak di daerah perbatasan. Banyak anak di perbatasan yang bernasib malang karena tak dapat memperoleh pendidikan yang bermutu. Di beberapa perkampungan atau dusun di perbatasan Kalimantan misalnya, anak-anak harus berjalan kaki 1-2 jam sejauh hingga 6 Km melintasi hutan dan menuruni bukit untuk mendapatkan pendidikan di sekolah setiap hari.
Potret umum siswa di perbatasan memang sangat memprihatinkan. Namun, nasib para gurunya pun tak kalah memprihatinkan, terutama para guru honorer. Para guru tersebut banyak yang harus mengajar 2-3 kelas sekaligus. Hal ini karena kekurangan tenaga guru di sekolah pedalaman. Guru dipaksa bekerja ekstra keras bahkan terdapat ‘tuntutan psikologis’ untuk bekerja lebih besar daripada guru PNS karena status tidak tetap sebagai guru honorer lebih rentan daripada guru berstatus PNS yang meskipun sebulan tak mengajar di sekolah masih akan tetap menerima gaji.
Daerah-daerah perbatasan yang pada hakikatnya merupakan daerah terdepan sebagai pintu gerbang untuk memasuki Indonesia menjadi daerah yang paling terbelakang dalam hal pendidikan dan kesejahteraan guru. Kenyataan tersebut tentu saja sangat bertentangan dengan konstitusi karena sesuai dengan pasal 34 UUD 1945, setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Artinya, baik anak-anak di daerah perkotaan maupun anak-anak di daerah perbatasan mempunyai hak yang sama, yaitu sama-sama mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
Tidak dapat dipungkiri bahwa selain memiliki hak, warga negara juga mempunyai kewajiban, salah satu diantaranya adalah kewajiban untuk membela kedaulatan negara. Namun, ketika pemerintah tidak dapat memenuhi hak-hak warga negara, warga negara tersebut juga cenderung untuk mengabaikan kewajibannya. Contohnya adalah yang terjadi masyarakat yang berdomisili di sepanjang perbatasan. Mereka lebih ber-interaksi dan berorientasi kepada desa terdekat negara tetangga. Kesenjangan sosial ekonomi masyarakat daerah perbatasan dengan masyarakat negara tetangga mempengaruhi watak dan pola hidup masyarakat setempat dan berdampak negatif bagi pengamanan daerah perbatasan dan rasa nasionalisme. Inilah dampak buruk yang terjadi apabila pendidikan dan kesejahteraan masyarakat di daerah perbatasan diabaikan, karena akan mengikis rasa nasionalisme yang bukan tidak mungkin akan mengancam kedaulatan bangsa.
Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan
Jika kita analisa bahwa pokok permasalahan yang terjadi pada pendidikan di daerah perbatasan adalah sebagai berikut :
1. Minimnya sarana dan prasarana yang dapat menunjang proses belajar mengajar
2. Kurangnya jumlah tenaga pendidik
3. Rendahnya kualitas tenaga pendidik
4. Masih sedikitnya jumlah sekolah
Standar sarana dan prasarana merupakan kebutuhan utama sekolah juga yang harus terpenuhi , tentunya kelengkapan sarana prasarana yang ada di sekolah-sekolah yang ada di wilayah perbatasan harus sesuai dengan amanat UUSPN No 20 Th 200, PP No 19 Th 2005, dan Permendiknas No 24 Th 2007. Selain itu, juga harus memenuhi dari ketentuan pembakuan sarana dan prasarana pendidikan yang telah dijabarkan dalam: (1) Keputusan Mendiknas Nomor 129a/U/2004 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan; (2) Pembakuan Bangunan dan Perabot Sekolah Menengah Pertama Tahun 2004 dari Direktorat Pembinaan SMP; dan (3) Panduan Pelaksanaan dan Panduan Teknis Program Subsidi Imbal Swadaya: Pembangunan Ruang Laboratorium Sekolah Tahun 2007 dari Direktorat Pembinaan SMP. Standar sarana dan prasarana pendidikan yang dimaksudkan di sini baik mengenai jumlah, jenis, volumen, luasan, dan lain-lain sesuai dengan kategori atau tipe sekolahnya masing-masing Jaya (2009).
Dengan posisi geografis dan keadaan ekonomi yang rendah, biasanya menjadi momok bagi tenaga pengajar untuk mau mengabdi di sekolah-sekolah yang berada di wilayah perbatasan, sehingga yang terjadi adalah jumlah tenaga pendidik sedikit. Hal ini menjadi penghambat dalam kegiatan proses belajar mengajar.
Sulitnya akses informasi masuk ke wilayah perbatasan , menyebabkan secara kualitas pengetahuan tenaga pendidik tidak semaju tenaga-tenaga pendidik yang ada di perkotaan, hal ini juga berakibat pada rendahnya kualitas siswa-siswinya. “Bagaimana murid bisa pintar kalau yang mengajarnya kurang pintar ?”. Seperti perumpamaan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, begitu juga yang akan terjadi “Guru pengetahuannya kurang, tentu saja pengetahuan murid akan lebih kurang”.
Biasanya pola pemukiman di wilayah perbatasan berbentuk The Pure Isolated Farm Type (PIFT), pola pemukiman yang penduduknya tinggal, terpisah, berjauhan satu sama lain Sayogyo (2002). Sehingga jumlah sekolah harus disesuaikan, agar tidak menjadi kendala bagi siswa-siswi maupun guru untuk pergi ke sekolah.
Kenyataan-kenyataan tersebut, membawa kita pada satu konsekuensi logis bahwa pemerintah harus lebih memperhatikan kondisi pendidikan dan kesejahteraan guru di daerah perbatasan. Untuk tujuan tersebut, setidaknya ada Lima langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah. Pertama, membangun sarana dan prasarana pendukung pendidikan seperti gedung sekolah, perpustakaan, alat-alat praktek dan fasilitas belajar lainnya. Kedua, meningkatkan kesejahteraan guru di daerah perbatasan melalui gaji yang layak dan tunjangan hari tua. Ketiga, meningkatkan kualitas guru melalui pelatihan-pelatihan, keempat, mengembangkan kurikulum yang sesuai untuk diterapkan di daerah perbatasan serta kelima menambah jumlah sekolah yang dapat terjangkau oleh masyarakat perbatasan yang berada jauh di pelosok Najmu Laila (2009).
Kesimpulan
1. Dalam mengatasi kurangnya sarana dan prasarana sekolah tentunya , pemerintah harus memberikan perhatian dengan mengalokasikan dana untuk membangun sarana, dan prasarana sekolah yang berada di wilayah perbatasan.
2. Untuk menambah jumlah guru, maka kesejahteraannya harus diperhatikan agar mereka termotivasi untuk dapat mengabdi di wilayah-wilayah perbatasan.
3. Pelatihan-pelatihan dan pengembangan kurikulum ditujukan untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan siswa-siswinya.
\DAFTAR PUSTAKA
Nazmu Laila. 2009. Yang Terdepan yang Terbelakang. www.ui.ac.id. 13 November 2009.
Sayogyo. 2002. SOSIOLOGI PEDESAAN. Bahan Bacaan Jilid 1 & 2.UGM Press
Jaya 2009. Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan. www.idionbiu.com. 12 November 2009
Untuk memenuhi hak warga negara, pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.
Untuk mengejar ketertinggalan dunia pendidikan baik dari segi mutu dan alokasi anggaran pendidikan dibandingkan dengan negara lain, UUD 1945 mengamanatkan bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Dengan kenaikan jumlah alokasi anggaran pendidikan diharapkan terjadi pembaharuan sistem pendidikan nasional yaitu dengan memperbaharui visi, misi, dan strategi pembangunan pendidikan nasional. Pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
Sesuai dengan visi tersebut, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Kondisi dan Masalah Pendidikan di Wilayah Perbatasan
Ironis. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi pendidikan kita di daerah perbatasan. Betapa tidak, ketimpangan kualitas pendidikan di kota dengan di daerah sudah terjadi sedemikian rupa sehingga cerita tentang sekolah rubuh di daerah perbatasan atau cerita tentang guru yang lari ke negara tetangga, bukan sekedar mitos belaka. Selanjutnya, untuk memperoleh pemahaman secara lebih mendalam, permasalahan ini dapat kita tinjau dari sudut pandang hak dan kewajiban warga negara.
Melihat kondisi pendidikan di Indonesia saat ini, sulit untuk membuat gambaran umum untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya. Jika sekilas kita melihat pada sekolah-sekolah unggulan yang ada di kota, mungkin kita bisa berbangga dengan kondisi pendidikan kita saat ini. Sekolah-sekolah tersebut sudah sangat mapan dalam hal fasilitas dan kualitas. Para murid dan guru dari sekolah sekolah elit selalu dimanja dengan fasilitas pendidikan yang lengkap dan mutakhir. Segala proses pembelajaran dijalankan dengan nyaman dan mudah sehingga dapat menghasilkan murid yang berkualitas. Namun, ketika kita melihat kondisi pendidikan di daerah perbatasan, keadaan tersebut sungguh berbanding terbalik.
Tak banyak yang mengetahui atau peduli dengan nasib pendidikan anak-anak di daerah perbatasan. Banyak anak di perbatasan yang bernasib malang karena tak dapat memperoleh pendidikan yang bermutu. Di beberapa perkampungan atau dusun di perbatasan Kalimantan misalnya, anak-anak harus berjalan kaki 1-2 jam sejauh hingga 6 Km melintasi hutan dan menuruni bukit untuk mendapatkan pendidikan di sekolah setiap hari.
Potret umum siswa di perbatasan memang sangat memprihatinkan. Namun, nasib para gurunya pun tak kalah memprihatinkan, terutama para guru honorer. Para guru tersebut banyak yang harus mengajar 2-3 kelas sekaligus. Hal ini karena kekurangan tenaga guru di sekolah pedalaman. Guru dipaksa bekerja ekstra keras bahkan terdapat ‘tuntutan psikologis’ untuk bekerja lebih besar daripada guru PNS karena status tidak tetap sebagai guru honorer lebih rentan daripada guru berstatus PNS yang meskipun sebulan tak mengajar di sekolah masih akan tetap menerima gaji.
Daerah-daerah perbatasan yang pada hakikatnya merupakan daerah terdepan sebagai pintu gerbang untuk memasuki Indonesia menjadi daerah yang paling terbelakang dalam hal pendidikan dan kesejahteraan guru. Kenyataan tersebut tentu saja sangat bertentangan dengan konstitusi karena sesuai dengan pasal 34 UUD 1945, setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Artinya, baik anak-anak di daerah perkotaan maupun anak-anak di daerah perbatasan mempunyai hak yang sama, yaitu sama-sama mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
Tidak dapat dipungkiri bahwa selain memiliki hak, warga negara juga mempunyai kewajiban, salah satu diantaranya adalah kewajiban untuk membela kedaulatan negara. Namun, ketika pemerintah tidak dapat memenuhi hak-hak warga negara, warga negara tersebut juga cenderung untuk mengabaikan kewajibannya. Contohnya adalah yang terjadi masyarakat yang berdomisili di sepanjang perbatasan. Mereka lebih ber-interaksi dan berorientasi kepada desa terdekat negara tetangga. Kesenjangan sosial ekonomi masyarakat daerah perbatasan dengan masyarakat negara tetangga mempengaruhi watak dan pola hidup masyarakat setempat dan berdampak negatif bagi pengamanan daerah perbatasan dan rasa nasionalisme. Inilah dampak buruk yang terjadi apabila pendidikan dan kesejahteraan masyarakat di daerah perbatasan diabaikan, karena akan mengikis rasa nasionalisme yang bukan tidak mungkin akan mengancam kedaulatan bangsa.
Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan
Jika kita analisa bahwa pokok permasalahan yang terjadi pada pendidikan di daerah perbatasan adalah sebagai berikut :
1. Minimnya sarana dan prasarana yang dapat menunjang proses belajar mengajar
2. Kurangnya jumlah tenaga pendidik
3. Rendahnya kualitas tenaga pendidik
4. Masih sedikitnya jumlah sekolah
Standar sarana dan prasarana merupakan kebutuhan utama sekolah juga yang harus terpenuhi , tentunya kelengkapan sarana prasarana yang ada di sekolah-sekolah yang ada di wilayah perbatasan harus sesuai dengan amanat UUSPN No 20 Th 200, PP No 19 Th 2005, dan Permendiknas No 24 Th 2007. Selain itu, juga harus memenuhi dari ketentuan pembakuan sarana dan prasarana pendidikan yang telah dijabarkan dalam: (1) Keputusan Mendiknas Nomor 129a/U/2004 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan; (2) Pembakuan Bangunan dan Perabot Sekolah Menengah Pertama Tahun 2004 dari Direktorat Pembinaan SMP; dan (3) Panduan Pelaksanaan dan Panduan Teknis Program Subsidi Imbal Swadaya: Pembangunan Ruang Laboratorium Sekolah Tahun 2007 dari Direktorat Pembinaan SMP. Standar sarana dan prasarana pendidikan yang dimaksudkan di sini baik mengenai jumlah, jenis, volumen, luasan, dan lain-lain sesuai dengan kategori atau tipe sekolahnya masing-masing Jaya (2009).
Dengan posisi geografis dan keadaan ekonomi yang rendah, biasanya menjadi momok bagi tenaga pengajar untuk mau mengabdi di sekolah-sekolah yang berada di wilayah perbatasan, sehingga yang terjadi adalah jumlah tenaga pendidik sedikit. Hal ini menjadi penghambat dalam kegiatan proses belajar mengajar.
Sulitnya akses informasi masuk ke wilayah perbatasan , menyebabkan secara kualitas pengetahuan tenaga pendidik tidak semaju tenaga-tenaga pendidik yang ada di perkotaan, hal ini juga berakibat pada rendahnya kualitas siswa-siswinya. “Bagaimana murid bisa pintar kalau yang mengajarnya kurang pintar ?”. Seperti perumpamaan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, begitu juga yang akan terjadi “Guru pengetahuannya kurang, tentu saja pengetahuan murid akan lebih kurang”.
Biasanya pola pemukiman di wilayah perbatasan berbentuk The Pure Isolated Farm Type (PIFT), pola pemukiman yang penduduknya tinggal, terpisah, berjauhan satu sama lain Sayogyo (2002). Sehingga jumlah sekolah harus disesuaikan, agar tidak menjadi kendala bagi siswa-siswi maupun guru untuk pergi ke sekolah.
Kenyataan-kenyataan tersebut, membawa kita pada satu konsekuensi logis bahwa pemerintah harus lebih memperhatikan kondisi pendidikan dan kesejahteraan guru di daerah perbatasan. Untuk tujuan tersebut, setidaknya ada Lima langkah yang harus dilakukan oleh pemerintah. Pertama, membangun sarana dan prasarana pendukung pendidikan seperti gedung sekolah, perpustakaan, alat-alat praktek dan fasilitas belajar lainnya. Kedua, meningkatkan kesejahteraan guru di daerah perbatasan melalui gaji yang layak dan tunjangan hari tua. Ketiga, meningkatkan kualitas guru melalui pelatihan-pelatihan, keempat, mengembangkan kurikulum yang sesuai untuk diterapkan di daerah perbatasan serta kelima menambah jumlah sekolah yang dapat terjangkau oleh masyarakat perbatasan yang berada jauh di pelosok Najmu Laila (2009).
Kesimpulan
1. Dalam mengatasi kurangnya sarana dan prasarana sekolah tentunya , pemerintah harus memberikan perhatian dengan mengalokasikan dana untuk membangun sarana, dan prasarana sekolah yang berada di wilayah perbatasan.
2. Untuk menambah jumlah guru, maka kesejahteraannya harus diperhatikan agar mereka termotivasi untuk dapat mengabdi di wilayah-wilayah perbatasan.
3. Pelatihan-pelatihan dan pengembangan kurikulum ditujukan untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik dan siswa-siswinya.
\DAFTAR PUSTAKA
Nazmu Laila. 2009. Yang Terdepan yang Terbelakang. www.ui.ac.id. 13 November 2009.
Sayogyo. 2002. SOSIOLOGI PEDESAAN. Bahan Bacaan Jilid 1 & 2.UGM Press
Jaya 2009. Standar Sarana dan Prasarana Pendidikan. www.idionbiu.com. 12 November 2009
CURRICULUM VITAE
Nama : Nia Kurniasih Suryana, SP., MP
NIDN : 1126087402
Tempat dan Tanggal Lahir : Ciamis, 26 Agustus 1974
Agama : Islam
Golongan / Pangkat : -
Jabatan Fungsional Akademik : Lektor
Perguruan Tinggi : Universitas Borneo Tarakan
Alamat : Jl. Amal lama No.1 Tarakan
Telp./Faks. : 0811536133
Alamat Rumah : Jl. Imam Bonjol RT 23 No 96 Tarakan
Alamat e-mail : zlynia@gmail.com / kunidesu@yahoo.co.id
RIWAYAT PENDIDIKAN
1998 Sarjana Pertanian INSTIPER Jogjakarta Sosial Ekonomi Pertanian
2007 Magister Pertanian UNLAM Banjarmasin Agronomi
PELATIHAN PROFESIONAL
2002 Pelatihan Penyusunan SAP UBT 1 hari
2005 Pelatihan Peningkatan Keterampilan Belajar mengajar UBT 6 hari
2004 Pelatihan Metode penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat UB 6 hari
2005 Pelatihan Penulisan Buku ajar dan Jurnal Ilmiah UNLAM 2 hari
2006 Pelatihan pembuatan Pestisida Botani UNLAM 2 hari
2007 Pelatihan Metodologi Statistik (Metode Statistik Untuk Ilmu Sosial dan Tutorial SPSS) UBT 2 hari
2007 Pelatihan GIS dan RS UBT 5 hari
2007 Pelatihan Penulisan Proposal dan Karya ilmiah UB 3 hari
2007 Pelatihan pengembangan keterampilan Dasar Teknik Intruksional (PEKERTI) UB 5 hari
2008 Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah DIKTI 4 hari
2008 Pelatihan Brain Power dan Power of Dream LMPP (Lembaga Merah Putih) 1 hari
2008 Kursus Calon Dosen kewarganegaraan DIKTI 10 hari
2008 Pelatihan Applied Approach (AA) UB 5 hari
2009 Pelatihan Pengolahan Kelapa terpadu PT.Tropica Nucifera Industry 5 hari
2009 Pelatihan Metodologi Penelitian STIE Bulungan 4 hari
2009 Pelatihan Angka Kredit Dosen dan Jabatan Fungsional Dosen STIE Bulungan 2 hari
2010 Pelatihan Student Centre learning (SCL) UBT 1 hari
2010 Pelatihan pengelolaan dan penyuntingan Jurnal Ilmiah UNM 4 hari
2010 Pelatihan dan Evaluasi Proposal PKM UBT 1 hari
2010 Pelatihan Pengelolaan Program Studi dan Pengelolaan Laboratorium FPIK UBT 1 hari
2010 Pelatihan Pengelolaan Program Studi IPB 2 hari
2010 TOT Kewirausahaan IPB 3 hari
2010 TOT Penyuluhan Pertanian UGM 3 hari
PENGALAMAN MENGAJAR
Ilmu Sosial Dasar S1 Fakultas Pertanian Ganjil 2001/2002
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Fakultas Pertanian Ganjil 2001/2002
Ilmu Sosial Dasar S1 Fakultas Perikanan Ganjil 2001/2002
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Fakultas Pertanian Genap 2001/2002
Ekonomi Pertanian S1 Fakultas Pertanian Genap 2001/2002
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agronomi Ganjil 2002/2003
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2002/2003
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Fakultas Perikanan Ganjil 2002/2003
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan Agronomi Genap 2002/2003
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan Agrobisnis Genap 2002/2003
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan Agronomi Genap 2002/2003
Ekonomi pertanian S1 Jurusan Agrobisnis Genap 2002/2003
Penyuluhan dan kom Pert S1 Jurusan Agronomi Genap 2002/2003
Ekonomi Pertanian II S1 Jurusan IESP (Fak Ekonomi) Genap 2002/2003
Ilmu Sosial Dasar S1 Jurusan Agronomi Ganjil 2003/2004
Ilmu Sosial Dasar S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2003/2004
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agronomi Ganjil 2003/2004
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2003/2004
Ekonomi Pertanian I S1 Jurusan IESP (Fak Ekonomi) Ganjil 2003/2004
Ilmu Sosial dasar S1 Fakultas Perikanan Ganjil 2003/2004
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan Agrobisnis Genap 2003/2004
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan Agronomi Genap 2003/2004
Ekonomi pertanian S1 Jurusan Agrobisnis Genap 2003/2004
Penyuluhan dan kom Pert S1 Jurusan Agronomi Genap 2003/2004
Ekonomi Pertanian II S1 Jurusan IESP (Fak Ekonomi) Genap 2003/2004
Ilmu Sosial Dasar S1 Jurusan Agronomi Ganjil 2004/2005
Ilmu Sosial Dasar S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2004/2005
Koperasi Pertanian S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2004/2005
Peng Ilmu Kependudukan S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2004/2005
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2004/2005
Ekonomi Pertanian I S1 Jurusan IESP Fekon Ganjil 2004/2005
Ekonomi Pertanian II S1 Jurusan IESP Fekon Genap 2004/2005
Pengantar ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agronomi Genap 2007/2008
Pengantar Ilmu ekonomi S1 Jurusan Agribisnis Genap 2007/2008
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan Agronomi Genap 2007/2008
Pengantar Ilmu pertanian S1 Jurusan Agribisnis Genap 2007/2008
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan Agronomi Genap 2007/2008
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan Agribisnis Genap 2007/2008
Pancasila S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2008/2009
Pendidikan Kewarganegaraan S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2008/2009
Pengantar Ilmu pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2008/2009
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2008/2009
Pendidikan Kewarganegaraan S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Pengantar Ilmu Kependudukan S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Koperasi Pertanian S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Tataniaga pertanian S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Pengelolaan Perkebunan S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Pendidikan Kewarganegaraan S1 Jurusan teknik sipil Genap 2008/2009
Pendidikan Kewarganegaraan S1 Jurusan teknik elektro Genap 2008/2009
Kewiraan S1 Jurusan agribisnis Genap 2008/2009
Sosiologi Pertanian S1 Jurusan agribisnis Genap 2008/2009
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan agribisnis Genap 2008/2009
Penyuluhan dan Komunikasi pertanian S1 Jurusan agribisnis Genap 2008/2009
Manajemen Tataniaga S1 Jurusan agribisnis Genap 2008/2009
Komunikasi Bisnis S1 Jurusan agribisnis
Kewiraan S1 Jurusan agroteknologi Genap 2008/2009
Sosiologi Pertanian S1 Jurusan agroteknologi Genap 2008/2009
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan agroteknologi Genap 2008/2009
Pengantar Ilmu pertanian S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2009/2010
Pengantar Ilmu kependudukan S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2009/2010
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2009/2010
Komunikasi pertanian S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2009/2010
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2009/2010
Pendidikan kewarganegaraan S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2009/2010
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2009/2010
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Genap 2009/2010
Sosiologi Pedesaan S1 Jurusan Agroteknologi Genap 2009/2010
Sosiologi Pertanian S1 Jurusan Agribisnis Genap 2009/2010
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan Agribisnis Genap 2009/2010
Pengelolaan Perkebunan S1 Jurusan Agribisnis Genap 2009/2010
Komunikasi Bisnis S1 Jurusan Agribisnis Genap 2009/2010
Pendidikan Kewarganegaraan S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2010/2011
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2010/2011
Pengantar ilmu ekonomi S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2010/2011
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2010/2011
Pendidikan Kewarganegaraan S1 Jurusan Agribisnis Ganjil 2010/2011
Pengantar Ilmu kependudukan S1 Jurusan Agribisnis Ganjil 2010/2011
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agribisnis Ganjil 2010/2011
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan Agribisnis Ganjil 2010/2011
Sosiologi Pertanian S1 Jurusan Agribisnis Genap 2010/2011
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan Agribisnis Genap 2010/2011
Dasar-dasar Manajemen S1 Jurusan Agribisnis Genap 2010/2011
Komunikasi Bisnis S1 Jurusan Agribisnis Genap 2010/2011
PRODUK BAHAN AJAR
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Non Cetak 2007 s.d sekarang
Ekonomi Pertanian S1 Non Cetak 2007 s.d sekarang
Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian S1 Non Cetak 2007 s.d sekarang
Komunikasi Bisnis S1 Non Cetak 2010 s.d sekarang
PENGALAMAN PENELITIAN
2002 Analisis Usahatani Komoditas Bayam di Kecamatan Tarakan Timur Ketua Mandiri
2003 Analisis Usahatani Tanaman Kangkung di Kecamatan Tarakan Timur Ketua Mandiri
2005 Respon Pertumbuhan dan Daya hasil Serta Kajian Ekonomi Jagung Manis (zea mays saccharata sturt) pada Berbagai Jenis Pupuk Angota Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Tarakan
2005 Dampak Pelaksanaan Diklat Pemberdayaan Pelaku Agribisnis Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup Peserta Diklat Di Kelurahan Mamburungan Kecamatan Tarakan Timur Ketua Ripedup UB
2005 Hubungan Saluran Pemasaran Pertanian Dengan Tingkat Harga Komoditas Sayuran di Pasar tenguyun Kota Tarakan Anggota Ripedup UB
2005 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Penyaluran Kredit Usahatani (Studi Kasus di KUD Cahaya Baru Kelurahan Karang Harapan) Ketua Ripedup UB
2006 Kontribusi Pendapatan Wanita Pekerja Kebersihan Terhadap Kesejahteraan Keluarga Di Kota Tarakan Ketua Kajian wanita
2007 Studi Pertumbuhan Gaharu (Aquilaria spp) Pada jarak Tanam dan Inokulasi Mikoriza dan Kondisi Lingkungan Yang Berbeda Anggota DIKTI
2007 Permodelan Neraca Air: Aplikasi Tanaman Hortikultura di Kota Tarakan Ketua Penelitian Unggulan
2008 Kajian Finansial usahatani Ayam Broiler di Kota Tarakan Ketua UBT
2009 Kearifan Lokal Masyarakat Etnis Toraja dalam Pengelolaan Tanaman Sayuran di Pulau Tarakan Ketua Hibah Propinsi
2009 Kajian Sosial Ekonomi Usahatani Tanaman Sawi Etnis Toraja di sekitar Hutan Penelitian Universitas Borneo Ketua UBT
2010 Data base Potensi Produksi Pangan Kota Tarakan Anggota Dinas Pertanian dan Peternakan Kota tarakan
2010 Kajian Agronomis dan Ekonomi Tanaman Kedelai di Kota Tarakan Anggota Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Tarakan
2011 Kajian Lingkungan dan sosial ekonomi pertanian organik pada kelompok tani binaan PT.Medco E&P Tarakan Anggota PT.Medco E&P
KARYA TULIS ILMIAH*
2007 Analisis Usahatani Serta respon Pertumbuhan dan Hasil Usahatani Jagung Manis (zea mays) Pada Berbagai Jenis Pupuk Jurnal Eksakta Borneo Vol. 1 No. 1 September 2007. ISSN : 2085-2037 Universitas Borneo
2007 Kontribusi Pendapatan Wanita Pekerja Kebersihan Terhadap Kesejahteraan Keluarga Di Kota Tarakan Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol 3 No 2 Juli 2007 ISSN:1858-3954
2008 Pengaruh Naungan dan Dosis Pupuk terhadap Pertumbuhan dan Hasil Paprika (capsicum annum var grossum) Jurnal Agrisains Vol 9 no. 2 Agustus 2008
ISSN :1412-3657
2009 Neraca Air di Wilayah tarakan. Aplikasi Untuk Penanaman Hortikultura Jurnal Eksakta Borneo Vol.II No. 2 Maret 2009. ISSN : 2085-2037
2009 Analisis Usahatani pengaruh Naungan dan Dosis Pupuk Kotoran Ayam pada tanaman Paprika Jurnal Eksakta Borneo Vol.II No. 2 Maret 2009. ISSN : 2085-2037
2010 Kajian Finansial Usahatani Ternak Ayam Jurnal Eksakta Borneo Vol.IV No. 1 September 2010. ISSN : 2085-2037
2011 Degradasi Produksi usahatani Akibat Konversi Lahan Pertanian Jurnal Eksakta Borneo Vol.IV No. 2 Maret 2011. ISSN : 2085-2037
B. Makalah/Poster
2009 Kajian Finansial Usahatani Ternak Ayam Broiler (makalah seminar nasional/pemakalah) UB
2010 Kajian Sosial Ekonomi Usahatani Sayuran Masyarakat Etnis Toraja di Sekitar Hutan penelitian (makalah seminar nasional /pemakalah) UB
2010 Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan di Wilayah Perbatasan (makalah seminar nasional/pemakalah) UB
2011 Kearifan Lokal Masyarakat Etnis Toraja Dalam Pemasaran Sawi (Brassica juncea L Coss) di Pulau Tarakan (makalah seminar internasional / pemakalah) UB
2011 Degradasi Produksi Usahatani Akibat Konversi lahan pertanian (makalah Seminar internasional / pemakalah) UB
KONFERENSI/SEMINAR/LOKAKARYA/SIMPOSIUM
2006 Seminar proposal penelitian dan hasil penelitian dosen Perguruan Tinggi swasta di lingkungan Kopertis wilayah XI Kalimantan Kopertis peserta
2006 Seminar nasioanal rekomendasi pemerintah terhadap penggunaan pupuk bagi pertanian di Indonesia UNLAM peserta
2007 Lokakarya Nasional Pengembangan Ekonomi Kawasan Perbatasan UB peserta
2007 Seminar Sehari dalam rangka Wisuda Sarjana dan Diploma Angkatan III Universitas Borneo UB peserta
Seminar nasional Produksi Pengolahan dan Pemanfaatan Singkong di Kalimantan UNLAM peserta
2007 Workshop Penulisan Proposal dan Karya Ilmiah sebagai Peserta UB Peserta
2007 Workshop Pengembangan Program Studi sebagai Peserta UB Peserta
2007 Workshop Pengembangan Kurikulum (KBK, SAP, Modul, Evaluasi PBM) sebagai Peserta UB Peserta
2007 Workshop Pengembangan dan Pengelolaan Laboratorium sebagai Peserta UB Peserta
2007 Workshop Pengembangan Kegiatan Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama dengan Stakeholder UB Peserta
2008 Workshop Pelaksanaan Program Pendidikan Lingkungan Hidup di Kota Tarakan, Kabupaten Malinau dan Nunukan Dinas Lingkungan Hidup Kota Tarakan Peserta
2008 Lokakarya Penulisan Proposal Hibah Penelitian dan pengabdian Kepada masyarakat UB peserta
2009 Seminar Nasional IPTEK dan Pendidikan di UB Tarakan, UB Pemakalah
2009 Konferensi Antar Universiti Se Borneo-Kalimantan Ke 5 di UMS Sabah Malaysia UMS peserta
2009 Seminar Nasional Field Guide to Tarakan Island sebagai Penyaji utama UB pemakalah
2009 Lokakarya Nasional XI Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia, di Kupang FKPTPI peserta
2010 Lokakarya Nasional XI Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia, di Pontianak FKPTPI peserta
2011 Seminar Internasional Environmental Management for Sustainable Development di Universitas Borneo Tarakan UB pemakalah
KEGIATAN PROFESIONAL/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
2004 Pemberdayaan Pelaku Agribisnis Masyarakat Pedesaan Tarakan
2004 Pembuatan Demplot Pengujian Tanaman Jagung SC Tarakan
2004 Proyek Pemberdayaan Pelaku Agribisnis Masyarakat Pedesaan Penyuluh Pertanian Kota Tarakan Tarakan
2005 Pembuatan Demplot Tanam Gaharu Tarakan
2007 Susunan Tim Demplot Gaharu Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan
2007 Tim Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2007 Malinau
2008 Penyuluhan tentang Bokashi di Kelurahan Lingkas Ujung Tarakan
2008 Penyuluhan tentang Bokashi di Kelurahan Gunung Lingkas Tarakan
2008 Penyuluhan tentng Budidaya Cabe di kelurahan SKIP Tarakan
2008 Tim Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2008 Malinau
2009 Penilaian Green and Clean Kota Tarakan Tahun 2009 Tarakan
2009 Penyuluhan teknik Vertikultur di Kelurahan Pamusian Tarakan
2009 Tim Pemantau Independen (TPI) Ujian Nasional 2009 Malinau
2009 Pembimbing Lapangan KKN Universitas Borneo 2009 Tarakan
2009 Tim Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2009 Nunukan
2009 Uji Coba Penanaman Kedele di Kota Tarakan Tarakan
2010 Penilaian Green and Clean Kota Tarkan Tahun 2010 Tarakan
2010 Tim Pemantau Independen (TPI) Ujian Nasional 2010 Malinau
2010 Panitia Pelaksana KKN Universitas Borneo 2010 Tarakan
2010 Tim Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2010 Berau
2009-skr Asesor Portofolio Sertifikasi Guru UBT
2009-skr Instruktur Pearteaching PLPG Srtifikasi Guru UBT
2010 Pemberdayaan Petani Sayuran Melalui Inovasi Pertanian (Pepsamip) di Kota Tarakan Tarakan
2010 Upaya Peningkatan Pendapatan Masyarakat Transmigrasi Sambungan melalui Agribisnis Rosella Kabupaten Tana Tidung
2010 Kelompok Tani Sayuran di Kelurahan Kampung VI (aplikasi Pestisida Botani) Tarakan
2011 Penyuluhan dan Pelatihan Pengolahan Rosella pada Kegiatan PKK di kelurahan Karang Anyar
Tarakan
2011 Tim seleksi paparn dan Wawancara PNS yang akan ditugas belajarkan ke S2 di Pemda Kota Tarakan Tarakan
2011 Penyuluhan Pengembangan Rosella di Tarakan pada kegiatan PKK di Kampung Satu Tarakan
2011 Penilaian Green and Clean Kota Tarakan Tahun 2011 Tarakan
2010 Pelaksana Kegiatan Studi Pola Pengembangan Sosek dan Budaya Petani dan Nelayan Kawasan Daerah Pesisir Kabupaten Tana Tidung Kabupaten Tana Tidung
JABATAN DALAM PENGELOLAAN INSTITUSI
Ketua Jurusan Jurusan Agrobisnis Fakultas Pertanian 2002 s.d 2004
Pembantu Dekan II Fakultas Pertanian Univ. Borneo Tarakan 2004 s.d 2005
Ketua Jurusn Fakultas Pertanian Univ. Borneo Tarakan 2005 s.d 2011
Kepala Laboratorium Laboratorium Penyuluhan Pertanian 2010 s.d Sekarang
Wakil Dekan Fakultas Pertanian Univ. Borneo Tarakan 2011 s.d Sekarang
Ketua redaksi Jurnal Eksakta LP3M UBT 2007 s.d 2010
PERAN DALAM KEGIATAN KEMAHASISWAAN
2007 s.d skr Pengurus Pergerakan Mahasiswa Agribisnis (PMA) Penasehat UBT
NIDN : 1126087402
Tempat dan Tanggal Lahir : Ciamis, 26 Agustus 1974
Agama : Islam
Golongan / Pangkat : -
Jabatan Fungsional Akademik : Lektor
Perguruan Tinggi : Universitas Borneo Tarakan
Alamat : Jl. Amal lama No.1 Tarakan
Telp./Faks. : 0811536133
Alamat Rumah : Jl. Imam Bonjol RT 23 No 96 Tarakan
Alamat e-mail : zlynia@gmail.com / kunidesu@yahoo.co.id
RIWAYAT PENDIDIKAN
1998 Sarjana Pertanian INSTIPER Jogjakarta Sosial Ekonomi Pertanian
2007 Magister Pertanian UNLAM Banjarmasin Agronomi
PELATIHAN PROFESIONAL
2002 Pelatihan Penyusunan SAP UBT 1 hari
2005 Pelatihan Peningkatan Keterampilan Belajar mengajar UBT 6 hari
2004 Pelatihan Metode penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat UB 6 hari
2005 Pelatihan Penulisan Buku ajar dan Jurnal Ilmiah UNLAM 2 hari
2006 Pelatihan pembuatan Pestisida Botani UNLAM 2 hari
2007 Pelatihan Metodologi Statistik (Metode Statistik Untuk Ilmu Sosial dan Tutorial SPSS) UBT 2 hari
2007 Pelatihan GIS dan RS UBT 5 hari
2007 Pelatihan Penulisan Proposal dan Karya ilmiah UB 3 hari
2007 Pelatihan pengembangan keterampilan Dasar Teknik Intruksional (PEKERTI) UB 5 hari
2008 Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah DIKTI 4 hari
2008 Pelatihan Brain Power dan Power of Dream LMPP (Lembaga Merah Putih) 1 hari
2008 Kursus Calon Dosen kewarganegaraan DIKTI 10 hari
2008 Pelatihan Applied Approach (AA) UB 5 hari
2009 Pelatihan Pengolahan Kelapa terpadu PT.Tropica Nucifera Industry 5 hari
2009 Pelatihan Metodologi Penelitian STIE Bulungan 4 hari
2009 Pelatihan Angka Kredit Dosen dan Jabatan Fungsional Dosen STIE Bulungan 2 hari
2010 Pelatihan Student Centre learning (SCL) UBT 1 hari
2010 Pelatihan pengelolaan dan penyuntingan Jurnal Ilmiah UNM 4 hari
2010 Pelatihan dan Evaluasi Proposal PKM UBT 1 hari
2010 Pelatihan Pengelolaan Program Studi dan Pengelolaan Laboratorium FPIK UBT 1 hari
2010 Pelatihan Pengelolaan Program Studi IPB 2 hari
2010 TOT Kewirausahaan IPB 3 hari
2010 TOT Penyuluhan Pertanian UGM 3 hari
PENGALAMAN MENGAJAR
Ilmu Sosial Dasar S1 Fakultas Pertanian Ganjil 2001/2002
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Fakultas Pertanian Ganjil 2001/2002
Ilmu Sosial Dasar S1 Fakultas Perikanan Ganjil 2001/2002
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Fakultas Pertanian Genap 2001/2002
Ekonomi Pertanian S1 Fakultas Pertanian Genap 2001/2002
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agronomi Ganjil 2002/2003
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2002/2003
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Fakultas Perikanan Ganjil 2002/2003
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan Agronomi Genap 2002/2003
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan Agrobisnis Genap 2002/2003
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan Agronomi Genap 2002/2003
Ekonomi pertanian S1 Jurusan Agrobisnis Genap 2002/2003
Penyuluhan dan kom Pert S1 Jurusan Agronomi Genap 2002/2003
Ekonomi Pertanian II S1 Jurusan IESP (Fak Ekonomi) Genap 2002/2003
Ilmu Sosial Dasar S1 Jurusan Agronomi Ganjil 2003/2004
Ilmu Sosial Dasar S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2003/2004
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agronomi Ganjil 2003/2004
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2003/2004
Ekonomi Pertanian I S1 Jurusan IESP (Fak Ekonomi) Ganjil 2003/2004
Ilmu Sosial dasar S1 Fakultas Perikanan Ganjil 2003/2004
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan Agrobisnis Genap 2003/2004
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan Agronomi Genap 2003/2004
Ekonomi pertanian S1 Jurusan Agrobisnis Genap 2003/2004
Penyuluhan dan kom Pert S1 Jurusan Agronomi Genap 2003/2004
Ekonomi Pertanian II S1 Jurusan IESP (Fak Ekonomi) Genap 2003/2004
Ilmu Sosial Dasar S1 Jurusan Agronomi Ganjil 2004/2005
Ilmu Sosial Dasar S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2004/2005
Koperasi Pertanian S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2004/2005
Peng Ilmu Kependudukan S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2004/2005
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agrobisnis Ganjil 2004/2005
Ekonomi Pertanian I S1 Jurusan IESP Fekon Ganjil 2004/2005
Ekonomi Pertanian II S1 Jurusan IESP Fekon Genap 2004/2005
Pengantar ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agronomi Genap 2007/2008
Pengantar Ilmu ekonomi S1 Jurusan Agribisnis Genap 2007/2008
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan Agronomi Genap 2007/2008
Pengantar Ilmu pertanian S1 Jurusan Agribisnis Genap 2007/2008
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan Agronomi Genap 2007/2008
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan Agribisnis Genap 2007/2008
Pancasila S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2008/2009
Pendidikan Kewarganegaraan S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2008/2009
Pengantar Ilmu pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2008/2009
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2008/2009
Pendidikan Kewarganegaraan S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Pengantar Ilmu Kependudukan S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Koperasi Pertanian S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Tataniaga pertanian S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Pengelolaan Perkebunan S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2008/2009
Pendidikan Kewarganegaraan S1 Jurusan teknik sipil Genap 2008/2009
Pendidikan Kewarganegaraan S1 Jurusan teknik elektro Genap 2008/2009
Kewiraan S1 Jurusan agribisnis Genap 2008/2009
Sosiologi Pertanian S1 Jurusan agribisnis Genap 2008/2009
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan agribisnis Genap 2008/2009
Penyuluhan dan Komunikasi pertanian S1 Jurusan agribisnis Genap 2008/2009
Manajemen Tataniaga S1 Jurusan agribisnis Genap 2008/2009
Komunikasi Bisnis S1 Jurusan agribisnis
Kewiraan S1 Jurusan agroteknologi Genap 2008/2009
Sosiologi Pertanian S1 Jurusan agroteknologi Genap 2008/2009
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan agroteknologi Genap 2008/2009
Pengantar Ilmu pertanian S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2009/2010
Pengantar Ilmu kependudukan S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2009/2010
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2009/2010
Komunikasi pertanian S1 Jurusan agribisnis Ganjil 2009/2010
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2009/2010
Pendidikan kewarganegaraan S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2009/2010
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2009/2010
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Genap 2009/2010
Sosiologi Pedesaan S1 Jurusan Agroteknologi Genap 2009/2010
Sosiologi Pertanian S1 Jurusan Agribisnis Genap 2009/2010
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan Agribisnis Genap 2009/2010
Pengelolaan Perkebunan S1 Jurusan Agribisnis Genap 2009/2010
Komunikasi Bisnis S1 Jurusan Agribisnis Genap 2009/2010
Pendidikan Kewarganegaraan S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2010/2011
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2010/2011
Pengantar ilmu ekonomi S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2010/2011
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan Agroteknologi Ganjil 2010/2011
Pendidikan Kewarganegaraan S1 Jurusan Agribisnis Ganjil 2010/2011
Pengantar Ilmu kependudukan S1 Jurusan Agribisnis Ganjil 2010/2011
Pengantar Ilmu Ekonomi S1 Jurusan Agribisnis Ganjil 2010/2011
Komunikasi Pertanian S1 Jurusan Agribisnis Ganjil 2010/2011
Sosiologi Pertanian S1 Jurusan Agribisnis Genap 2010/2011
Ekonomi Pertanian S1 Jurusan Agribisnis Genap 2010/2011
Dasar-dasar Manajemen S1 Jurusan Agribisnis Genap 2010/2011
Komunikasi Bisnis S1 Jurusan Agribisnis Genap 2010/2011
PRODUK BAHAN AJAR
Pengantar Ilmu Pertanian S1 Non Cetak 2007 s.d sekarang
Ekonomi Pertanian S1 Non Cetak 2007 s.d sekarang
Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian S1 Non Cetak 2007 s.d sekarang
Komunikasi Bisnis S1 Non Cetak 2010 s.d sekarang
PENGALAMAN PENELITIAN
2002 Analisis Usahatani Komoditas Bayam di Kecamatan Tarakan Timur Ketua Mandiri
2003 Analisis Usahatani Tanaman Kangkung di Kecamatan Tarakan Timur Ketua Mandiri
2005 Respon Pertumbuhan dan Daya hasil Serta Kajian Ekonomi Jagung Manis (zea mays saccharata sturt) pada Berbagai Jenis Pupuk Angota Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Tarakan
2005 Dampak Pelaksanaan Diklat Pemberdayaan Pelaku Agribisnis Terhadap Peningkatan Kualitas Hidup Peserta Diklat Di Kelurahan Mamburungan Kecamatan Tarakan Timur Ketua Ripedup UB
2005 Hubungan Saluran Pemasaran Pertanian Dengan Tingkat Harga Komoditas Sayuran di Pasar tenguyun Kota Tarakan Anggota Ripedup UB
2005 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Penyaluran Kredit Usahatani (Studi Kasus di KUD Cahaya Baru Kelurahan Karang Harapan) Ketua Ripedup UB
2006 Kontribusi Pendapatan Wanita Pekerja Kebersihan Terhadap Kesejahteraan Keluarga Di Kota Tarakan Ketua Kajian wanita
2007 Studi Pertumbuhan Gaharu (Aquilaria spp) Pada jarak Tanam dan Inokulasi Mikoriza dan Kondisi Lingkungan Yang Berbeda Anggota DIKTI
2007 Permodelan Neraca Air: Aplikasi Tanaman Hortikultura di Kota Tarakan Ketua Penelitian Unggulan
2008 Kajian Finansial usahatani Ayam Broiler di Kota Tarakan Ketua UBT
2009 Kearifan Lokal Masyarakat Etnis Toraja dalam Pengelolaan Tanaman Sayuran di Pulau Tarakan Ketua Hibah Propinsi
2009 Kajian Sosial Ekonomi Usahatani Tanaman Sawi Etnis Toraja di sekitar Hutan Penelitian Universitas Borneo Ketua UBT
2010 Data base Potensi Produksi Pangan Kota Tarakan Anggota Dinas Pertanian dan Peternakan Kota tarakan
2010 Kajian Agronomis dan Ekonomi Tanaman Kedelai di Kota Tarakan Anggota Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Tarakan
2011 Kajian Lingkungan dan sosial ekonomi pertanian organik pada kelompok tani binaan PT.Medco E&P Tarakan Anggota PT.Medco E&P
KARYA TULIS ILMIAH*
2007 Analisis Usahatani Serta respon Pertumbuhan dan Hasil Usahatani Jagung Manis (zea mays) Pada Berbagai Jenis Pupuk Jurnal Eksakta Borneo Vol. 1 No. 1 September 2007. ISSN : 2085-2037 Universitas Borneo
2007 Kontribusi Pendapatan Wanita Pekerja Kebersihan Terhadap Kesejahteraan Keluarga Di Kota Tarakan Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol 3 No 2 Juli 2007 ISSN:1858-3954
2008 Pengaruh Naungan dan Dosis Pupuk terhadap Pertumbuhan dan Hasil Paprika (capsicum annum var grossum) Jurnal Agrisains Vol 9 no. 2 Agustus 2008
ISSN :1412-3657
2009 Neraca Air di Wilayah tarakan. Aplikasi Untuk Penanaman Hortikultura Jurnal Eksakta Borneo Vol.II No. 2 Maret 2009. ISSN : 2085-2037
2009 Analisis Usahatani pengaruh Naungan dan Dosis Pupuk Kotoran Ayam pada tanaman Paprika Jurnal Eksakta Borneo Vol.II No. 2 Maret 2009. ISSN : 2085-2037
2010 Kajian Finansial Usahatani Ternak Ayam Jurnal Eksakta Borneo Vol.IV No. 1 September 2010. ISSN : 2085-2037
2011 Degradasi Produksi usahatani Akibat Konversi Lahan Pertanian Jurnal Eksakta Borneo Vol.IV No. 2 Maret 2011. ISSN : 2085-2037
B. Makalah/Poster
2009 Kajian Finansial Usahatani Ternak Ayam Broiler (makalah seminar nasional/pemakalah) UB
2010 Kajian Sosial Ekonomi Usahatani Sayuran Masyarakat Etnis Toraja di Sekitar Hutan penelitian (makalah seminar nasional /pemakalah) UB
2010 Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan di Wilayah Perbatasan (makalah seminar nasional/pemakalah) UB
2011 Kearifan Lokal Masyarakat Etnis Toraja Dalam Pemasaran Sawi (Brassica juncea L Coss) di Pulau Tarakan (makalah seminar internasional / pemakalah) UB
2011 Degradasi Produksi Usahatani Akibat Konversi lahan pertanian (makalah Seminar internasional / pemakalah) UB
KONFERENSI/SEMINAR/LOKAKARYA/SIMPOSIUM
2006 Seminar proposal penelitian dan hasil penelitian dosen Perguruan Tinggi swasta di lingkungan Kopertis wilayah XI Kalimantan Kopertis peserta
2006 Seminar nasioanal rekomendasi pemerintah terhadap penggunaan pupuk bagi pertanian di Indonesia UNLAM peserta
2007 Lokakarya Nasional Pengembangan Ekonomi Kawasan Perbatasan UB peserta
2007 Seminar Sehari dalam rangka Wisuda Sarjana dan Diploma Angkatan III Universitas Borneo UB peserta
Seminar nasional Produksi Pengolahan dan Pemanfaatan Singkong di Kalimantan UNLAM peserta
2007 Workshop Penulisan Proposal dan Karya Ilmiah sebagai Peserta UB Peserta
2007 Workshop Pengembangan Program Studi sebagai Peserta UB Peserta
2007 Workshop Pengembangan Kurikulum (KBK, SAP, Modul, Evaluasi PBM) sebagai Peserta UB Peserta
2007 Workshop Pengembangan dan Pengelolaan Laboratorium sebagai Peserta UB Peserta
2007 Workshop Pengembangan Kegiatan Pengabdian Masyarakat dan Kerjasama dengan Stakeholder UB Peserta
2008 Workshop Pelaksanaan Program Pendidikan Lingkungan Hidup di Kota Tarakan, Kabupaten Malinau dan Nunukan Dinas Lingkungan Hidup Kota Tarakan Peserta
2008 Lokakarya Penulisan Proposal Hibah Penelitian dan pengabdian Kepada masyarakat UB peserta
2009 Seminar Nasional IPTEK dan Pendidikan di UB Tarakan, UB Pemakalah
2009 Konferensi Antar Universiti Se Borneo-Kalimantan Ke 5 di UMS Sabah Malaysia UMS peserta
2009 Seminar Nasional Field Guide to Tarakan Island sebagai Penyaji utama UB pemakalah
2009 Lokakarya Nasional XI Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia, di Kupang FKPTPI peserta
2010 Lokakarya Nasional XI Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia, di Pontianak FKPTPI peserta
2011 Seminar Internasional Environmental Management for Sustainable Development di Universitas Borneo Tarakan UB pemakalah
KEGIATAN PROFESIONAL/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
2004 Pemberdayaan Pelaku Agribisnis Masyarakat Pedesaan Tarakan
2004 Pembuatan Demplot Pengujian Tanaman Jagung SC Tarakan
2004 Proyek Pemberdayaan Pelaku Agribisnis Masyarakat Pedesaan Penyuluh Pertanian Kota Tarakan Tarakan
2005 Pembuatan Demplot Tanam Gaharu Tarakan
2007 Susunan Tim Demplot Gaharu Fakultas Pertanian Universitas Borneo Tarakan
2007 Tim Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2007 Malinau
2008 Penyuluhan tentang Bokashi di Kelurahan Lingkas Ujung Tarakan
2008 Penyuluhan tentang Bokashi di Kelurahan Gunung Lingkas Tarakan
2008 Penyuluhan tentng Budidaya Cabe di kelurahan SKIP Tarakan
2008 Tim Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2008 Malinau
2009 Penilaian Green and Clean Kota Tarakan Tahun 2009 Tarakan
2009 Penyuluhan teknik Vertikultur di Kelurahan Pamusian Tarakan
2009 Tim Pemantau Independen (TPI) Ujian Nasional 2009 Malinau
2009 Pembimbing Lapangan KKN Universitas Borneo 2009 Tarakan
2009 Tim Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2009 Nunukan
2009 Uji Coba Penanaman Kedele di Kota Tarakan Tarakan
2010 Penilaian Green and Clean Kota Tarkan Tahun 2010 Tarakan
2010 Tim Pemantau Independen (TPI) Ujian Nasional 2010 Malinau
2010 Panitia Pelaksana KKN Universitas Borneo 2010 Tarakan
2010 Tim Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2010 Berau
2009-skr Asesor Portofolio Sertifikasi Guru UBT
2009-skr Instruktur Pearteaching PLPG Srtifikasi Guru UBT
2010 Pemberdayaan Petani Sayuran Melalui Inovasi Pertanian (Pepsamip) di Kota Tarakan Tarakan
2010 Upaya Peningkatan Pendapatan Masyarakat Transmigrasi Sambungan melalui Agribisnis Rosella Kabupaten Tana Tidung
2010 Kelompok Tani Sayuran di Kelurahan Kampung VI (aplikasi Pestisida Botani) Tarakan
2011 Penyuluhan dan Pelatihan Pengolahan Rosella pada Kegiatan PKK di kelurahan Karang Anyar
Tarakan
2011 Tim seleksi paparn dan Wawancara PNS yang akan ditugas belajarkan ke S2 di Pemda Kota Tarakan Tarakan
2011 Penyuluhan Pengembangan Rosella di Tarakan pada kegiatan PKK di Kampung Satu Tarakan
2011 Penilaian Green and Clean Kota Tarakan Tahun 2011 Tarakan
2010 Pelaksana Kegiatan Studi Pola Pengembangan Sosek dan Budaya Petani dan Nelayan Kawasan Daerah Pesisir Kabupaten Tana Tidung Kabupaten Tana Tidung
JABATAN DALAM PENGELOLAAN INSTITUSI
Ketua Jurusan Jurusan Agrobisnis Fakultas Pertanian 2002 s.d 2004
Pembantu Dekan II Fakultas Pertanian Univ. Borneo Tarakan 2004 s.d 2005
Ketua Jurusn Fakultas Pertanian Univ. Borneo Tarakan 2005 s.d 2011
Kepala Laboratorium Laboratorium Penyuluhan Pertanian 2010 s.d Sekarang
Wakil Dekan Fakultas Pertanian Univ. Borneo Tarakan 2011 s.d Sekarang
Ketua redaksi Jurnal Eksakta LP3M UBT 2007 s.d 2010
PERAN DALAM KEGIATAN KEMAHASISWAAN
2007 s.d skr Pengurus Pergerakan Mahasiswa Agribisnis (PMA) Penasehat UBT
Senin, 21 Maret 2011
SISTEM PERTANIAN CAMPURAN SEBAGAI ALTERNATIF PRODUKSI PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN
*)Telah Dimuat dalam Media Radar Tarakan
I. PENDAHULUAN
Indonesia diakui sebagai sebuah negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam, baik sumber daya fisik yang antara lain mencakup sumber daya lahan, air dan perairan yang serta kekayaan sumber daya hayati. Sumber daya hayati yang ada di Indonesia berada pada tipe-tipe ekosistem yang beragam mulai dari dataran rendah, dataran tinggi, rawa gambut, rawa air tawar, rawa pasang surut, pesisir dan sebagainya. Tipe ekosistem yang beragam tersebut menunjang kehidupan jutaan spesies dan menghadirkan sumber daya genetik atau plasma nuftah yang tidak terhingga nilainya.
Pembangunan berbasis pada sumber daya alam yang sangat beragam di atas pada dasarnya ditujukan untuk mendapatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat Indonesia. Namun demikian apabila pembangunan ramah lingkungan menuju pembangunan berkelanjutan, maka manfaat yang akan diperoleh akan menjadi semakin luas, tidak hanya manfaat ekonomi, tapi sekaligus juga manfaat ekologi, sosial, budaya bahkan manfaat politik, selain itu manfaat sumber daya alam tersebut akan dapat dinikmati oleh generasi mendatang dengan tanpa merusak lingkungan hidupnya pada saat pembangunan berlangsung.
Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, semestinya rakyat Indonesia yang mata pencaharian penduduk sebagian besar berasal dari kegiatan pertanian akan mendapatkan kemakmuran yang cukup. Namun demikian bagaimana dengan fakta yang ada di hadapan kita sekarang, ternyata lajunya pembangunan pertanian yang selama ini dilaksanakan juga turut menghadirkan berbagai masalah yang harus dipecahkan.
Kekhawatiran akan berkelanjutan pembangunan pertanian juga sering menjadi permasalahan, pembangunan yang ada justru sering merusak dan menurunkan kualitas sumber daya yang menjadi basis pembangunan dimaksud.
Salah satu bentuk teknologi peroduksi pertanian yang terkait kekayaan sumber daya hayati di lingkungan kita dikenal sebagai Sistem Pertanian Terpadu atau Sistem Pertanian Campuran (MIXED FARMING) yang berusaha memadukan komoditas tanaman pangan, tanaman perkebunan, hortikultura, peternakan dan perikanan. Diversifikasi komoditas yang sinergis dalam suatu luasan lahan tertentu merupakan salah satu upaya untuk memacu peningkatan produktivitas lahan yang berkelanjutan dan pada gilirannya akan meningkatkan kualitas hidup petani.
II. KEANEKARAGAMAN DAN KETAHANAN EKOSISTEM MELALUI PEKARANGAN
Konsep stabilitas ekosistem sangat erat hubungannya dengan konsep keanekaan (diversity). Pada keanekaragaman yang tinggi akan terdapat stabilitas yang tinggi dan sebaliknya. Menurut Zoeraini Djamal Irwan (1992), keanekaragaman jenis yang tinggi berarti mempunyai rantai-rantai makanan yang panjang dan lebih banyak kasus simbiosis dan interaksi sinergis, kendali yang lebih besar untuk kendali umpan balik negatif dapat mengurangi gangguan dan karenanya akan meningkatkan kemantapan ekosistem.
Konsep keanekaragaman dan agroekosistem pekarangan dapat dikembangan dalam upaya mengembalikan kemampuan suatu sistem untuk kembali ke keadaan semula setelah mengalami gangguan yang dikenal dengan konsep ”daya luntung” atau ”resilience”.
Menurut Soemarwoto (1983), pekarangan adalah sebidang lahan dengan batas tertentu, ada bagian tempat tinggal di atasnya dan umumnya ditanami dengan berbaga jenis tumbuhan dan sering pula dipelihara unggas, ternak serta ikan. Dari banyak penelitian dapat diketahui bahwa pekarangan mempunyai fungsi ganda yang merupakan integrasi antara fungsi alami mirip fungsi hutan dengan fungsi untuk memenuhi kebutuhan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat. Fungsi ganda yang dimaksud adalah :
1. Pencagaran sumber daya genetis, terwujud dengan adanya banyak jenis yang ditanam di pekarangan.
2. Fungsi hidrologis, terlihat dari sedikitnya erosi yang terjadi di pekarangan. Hal ini antara lain disebabkan oleh tajuk tanaman yang berlapis dan terbentuknya lapisan serasah yang cukup. Funsi pengawetan kesuburan tanah antara lain melalui proses daur ulang. Sisa makanan, sisa dapur dan tanaman tertentu digunakan sebagai makanan ayam, ternak dan ikan, sedangkan kotoran ayam dapat dikomposkan untuk memupuk tanaman. Daur ulang seperti di atas akhirnya menjaga kesuburan tanah.
3. Efek iklim mikro, yang dapat menyejukan pemukiman, karena energi yang digunakan untuk transpirasi tumbuhan telah menurunkan suhu dan membuat sejuk pekarangan.
4. Fungsi produksi, meliputi produksi subsistem dan produksi komersial.
5. Fungsi sosial, antara lain berhubungan dengan status penduduk. Penduduk yang tidak mempunyai pekarangan dipandang berstatus sosial yang lebih rendah.
Menurut Athaillah Mursyid (2002), kelebihan fungsi pekarangan dapat terancam oleh usaha pengembangan yang keliru, misalnya dalam modernisasi pedesaan tempat mandi/WC yang berada di atas kolam tidak layak bagi estetika, dengan cara ini kotoran manusia tidak mengalami daur ulang disamping itu protein yang berasal dari ikan berkurang. Pekarangan terkadang dianggap tidak rapi, dan ada usaha mengaturnya agar menjadi kebun yang sedap dipandang dan berproduksi tinggi, hal ini mengakibatkan berkurangnya kerapatan dan keanekaragaman jenis tanaman.
III. PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKELANJUTAN DAN ANCAMANNYA
Meningkatnya jumlah penduduk maka untuk memenuhi produksi penggunaan teknologi pertanian modern yang intensif terus dikembangkan. Peningkatan produksi sebagian komoditas mungkin dapat dicapai, namun demikian juga terdapat dampak negatif yang dihadapi yaitu adanya kencenderungan makin berkurangnya daya dukung lingkungan yang antara lain disebutkan oleh Sumardja (2000) sebagai akibat dari :
1. Monokultur dan penggunaan bibit unggul secara luas dan terbatas jenisnya akan mendorong terdesaknya species-species tumbuhan lokal dan sumber daya genetik atau terjadi erosi gen.
2. Pencemaran pupuk kimia dan pestisida dalam air, tanah dan udara akan mengakibatkan menurunnya keanekaragaman hayati dan mengganggu kesehatan manusia.
3. Penerapan teknologi intensifikasi yang tidak ramah lingkungan mengakibatkan penurunan kesuburan tanah karena terjadi peningkatan keasaman tanah, salinasi dan pemadatan tanah.
Partoatmodjo (1981), menyatakan bahwa tuntutan akan penambahan bahan makanan memerlukan areal lahan yang lebih luas dan menyebabkan eksploitasi melebihi (over exploitation) lahan berkualitas baik, akibatnya banyak lahan marginal dikikis habis. Jika tanah atas (top soil) lahan marginal tersebut hilang maka yang tertinggal hanyalah daerah tandus.
Tuntutan perluasan pembangunan dalam berbagai sektor, akhirnya tidak bisa menghindari terjadinya konversi lahan pertanian maupun hutan untuk penggunaan lain. Tidak bisa dihindari konversi lahan pertanian yang produktif untuk kepentingan industri dan pemukiman (Sri Kuntjiyati Haryono, 2000).
Akhir-akhir ini terlihat semakin meningkat terjadinya konversi hutan menjadi lahan perkebunan khususnya perkebunan kelapa sawit secara monokultur dalam jumlah yang luas, sehingga dampaknya peran dan fungsi hutan berkurang selain itu terjadi ketidakseimbangan dari berbagai aspek seperti ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan. Erosi merupakan salah satu akibat yang relatif serius dari perubahan alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya (Sumardja, 2000).
IV. SISTEM PRODUKSI PERTANIAN TERPADU RAMAH LINGKUNGAN
Produksi pertanian tanaman pangan maupun tanaman industri/perkebunan yang ramah lingkungan berarti harus mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang. Oleh karena itu praktik budidaya tanaman ramah lingkungan harus mengacu kepada kelestarian atau kemantapan ekosistem. Untuk mewujudkan maksud tersebut beberapa hal yang perlu dipertimbangan antara lain :
1. Pemilihan jenis komoditi pertanian yang dilibatkan dalam sistem
2. Pola tanam dan jadwal tanam yang tepat
3. Skala/luasan masing-masing komoditas yang diusahakan.
Pertimbangan-pertimbangan ini tentu sangat spesifik lokasi, karena masing-masing tipe ekosistem berbeda antara lokasi satu dengan lokasi lainnya. Namun dapat diprediksi bahwa pertanian campuran yang dipilih akan meliputi kegiatan pertanian tanaman pangan, perkebunan/industri, hortikultura, tanaman obat-obatan, perikanan dan peternakan.
Sistem pertanian campuran dapat dilakukan di lahan sawah dan juga di lahan kering. Contoh bentuk pertanian campuran :
1. Sistem Baluran, banyak dilakukan di persawahan lahan pasang surut . Sistem ini mengintegrasikan aneka tanaman di lahan balurannya sedangkan di bagian sawahnya ditanami padi atau dipelihara ikan dan ternak itik.
2. Mina Padi, adalah usaha memelihara ikan di sawah bersama-sama tanaman padi.
3. Agroforestry (Wanatani), merupakan sistem penggunaan lahan yang merupakan keterpaduan pembudidayaan tanaman berumur panjang, tanaman semusim /berumur pendek, peternakan dan atau perikanan dalam sebidang lahan sehingga tercapai kemanfaatan lahan secara optimal. Macam-macam wanatani :
a. Agrosilvikultur, bentuk kombinasi tanaman semusim/pertanian dengan tanaman tahunan.
b. Silvopasture, bentuk kombinasi tanaman tahunan dan peternakan, misalnya tanaman pakan ternak.
c. Agrosilvopasture, kombinasi tanaman semusim, tanaman tahunan dan ternak/pakan ternak.
d. Silvofhishery, bentuk kombinasi tanaman tahunan dengan perikanan.
e. Agrosilvofhishery, bentuk kombinasi tanaman semusim, tanaman tahunan dan perikanan.
Budidaya lorong (alley-cropping) merupakan salah satu bentuk pola tanam dalam sistem agroforestry. Budidaya lorong merupakan sistem pertanaman kombinasi antara tanaman semusim dengan tanaman tahunan dengan penataan tanaman tahunan ditanam dalam larikan atau barisan secara teratur (pagar hidup) sehingga membentuk lorong. diantara barisan tanaman tahunan dapat dimanfaatkan untuk pengusahaan tanaman semusim.
4. Pertanaman ganda, yaitu penanaman beberapa jenis tanaman di lahan yang sama.
5. Pekarangan.
I. PENDAHULUAN
Indonesia diakui sebagai sebuah negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam, baik sumber daya fisik yang antara lain mencakup sumber daya lahan, air dan perairan yang serta kekayaan sumber daya hayati. Sumber daya hayati yang ada di Indonesia berada pada tipe-tipe ekosistem yang beragam mulai dari dataran rendah, dataran tinggi, rawa gambut, rawa air tawar, rawa pasang surut, pesisir dan sebagainya. Tipe ekosistem yang beragam tersebut menunjang kehidupan jutaan spesies dan menghadirkan sumber daya genetik atau plasma nuftah yang tidak terhingga nilainya.
Pembangunan berbasis pada sumber daya alam yang sangat beragam di atas pada dasarnya ditujukan untuk mendapatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat Indonesia. Namun demikian apabila pembangunan ramah lingkungan menuju pembangunan berkelanjutan, maka manfaat yang akan diperoleh akan menjadi semakin luas, tidak hanya manfaat ekonomi, tapi sekaligus juga manfaat ekologi, sosial, budaya bahkan manfaat politik, selain itu manfaat sumber daya alam tersebut akan dapat dinikmati oleh generasi mendatang dengan tanpa merusak lingkungan hidupnya pada saat pembangunan berlangsung.
Dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki, semestinya rakyat Indonesia yang mata pencaharian penduduk sebagian besar berasal dari kegiatan pertanian akan mendapatkan kemakmuran yang cukup. Namun demikian bagaimana dengan fakta yang ada di hadapan kita sekarang, ternyata lajunya pembangunan pertanian yang selama ini dilaksanakan juga turut menghadirkan berbagai masalah yang harus dipecahkan.
Kekhawatiran akan berkelanjutan pembangunan pertanian juga sering menjadi permasalahan, pembangunan yang ada justru sering merusak dan menurunkan kualitas sumber daya yang menjadi basis pembangunan dimaksud.
Salah satu bentuk teknologi peroduksi pertanian yang terkait kekayaan sumber daya hayati di lingkungan kita dikenal sebagai Sistem Pertanian Terpadu atau Sistem Pertanian Campuran (MIXED FARMING) yang berusaha memadukan komoditas tanaman pangan, tanaman perkebunan, hortikultura, peternakan dan perikanan. Diversifikasi komoditas yang sinergis dalam suatu luasan lahan tertentu merupakan salah satu upaya untuk memacu peningkatan produktivitas lahan yang berkelanjutan dan pada gilirannya akan meningkatkan kualitas hidup petani.
II. KEANEKARAGAMAN DAN KETAHANAN EKOSISTEM MELALUI PEKARANGAN
Konsep stabilitas ekosistem sangat erat hubungannya dengan konsep keanekaan (diversity). Pada keanekaragaman yang tinggi akan terdapat stabilitas yang tinggi dan sebaliknya. Menurut Zoeraini Djamal Irwan (1992), keanekaragaman jenis yang tinggi berarti mempunyai rantai-rantai makanan yang panjang dan lebih banyak kasus simbiosis dan interaksi sinergis, kendali yang lebih besar untuk kendali umpan balik negatif dapat mengurangi gangguan dan karenanya akan meningkatkan kemantapan ekosistem.
Konsep keanekaragaman dan agroekosistem pekarangan dapat dikembangan dalam upaya mengembalikan kemampuan suatu sistem untuk kembali ke keadaan semula setelah mengalami gangguan yang dikenal dengan konsep ”daya luntung” atau ”resilience”.
Menurut Soemarwoto (1983), pekarangan adalah sebidang lahan dengan batas tertentu, ada bagian tempat tinggal di atasnya dan umumnya ditanami dengan berbaga jenis tumbuhan dan sering pula dipelihara unggas, ternak serta ikan. Dari banyak penelitian dapat diketahui bahwa pekarangan mempunyai fungsi ganda yang merupakan integrasi antara fungsi alami mirip fungsi hutan dengan fungsi untuk memenuhi kebutuhan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat. Fungsi ganda yang dimaksud adalah :
1. Pencagaran sumber daya genetis, terwujud dengan adanya banyak jenis yang ditanam di pekarangan.
2. Fungsi hidrologis, terlihat dari sedikitnya erosi yang terjadi di pekarangan. Hal ini antara lain disebabkan oleh tajuk tanaman yang berlapis dan terbentuknya lapisan serasah yang cukup. Funsi pengawetan kesuburan tanah antara lain melalui proses daur ulang. Sisa makanan, sisa dapur dan tanaman tertentu digunakan sebagai makanan ayam, ternak dan ikan, sedangkan kotoran ayam dapat dikomposkan untuk memupuk tanaman. Daur ulang seperti di atas akhirnya menjaga kesuburan tanah.
3. Efek iklim mikro, yang dapat menyejukan pemukiman, karena energi yang digunakan untuk transpirasi tumbuhan telah menurunkan suhu dan membuat sejuk pekarangan.
4. Fungsi produksi, meliputi produksi subsistem dan produksi komersial.
5. Fungsi sosial, antara lain berhubungan dengan status penduduk. Penduduk yang tidak mempunyai pekarangan dipandang berstatus sosial yang lebih rendah.
Menurut Athaillah Mursyid (2002), kelebihan fungsi pekarangan dapat terancam oleh usaha pengembangan yang keliru, misalnya dalam modernisasi pedesaan tempat mandi/WC yang berada di atas kolam tidak layak bagi estetika, dengan cara ini kotoran manusia tidak mengalami daur ulang disamping itu protein yang berasal dari ikan berkurang. Pekarangan terkadang dianggap tidak rapi, dan ada usaha mengaturnya agar menjadi kebun yang sedap dipandang dan berproduksi tinggi, hal ini mengakibatkan berkurangnya kerapatan dan keanekaragaman jenis tanaman.
III. PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKELANJUTAN DAN ANCAMANNYA
Meningkatnya jumlah penduduk maka untuk memenuhi produksi penggunaan teknologi pertanian modern yang intensif terus dikembangkan. Peningkatan produksi sebagian komoditas mungkin dapat dicapai, namun demikian juga terdapat dampak negatif yang dihadapi yaitu adanya kencenderungan makin berkurangnya daya dukung lingkungan yang antara lain disebutkan oleh Sumardja (2000) sebagai akibat dari :
1. Monokultur dan penggunaan bibit unggul secara luas dan terbatas jenisnya akan mendorong terdesaknya species-species tumbuhan lokal dan sumber daya genetik atau terjadi erosi gen.
2. Pencemaran pupuk kimia dan pestisida dalam air, tanah dan udara akan mengakibatkan menurunnya keanekaragaman hayati dan mengganggu kesehatan manusia.
3. Penerapan teknologi intensifikasi yang tidak ramah lingkungan mengakibatkan penurunan kesuburan tanah karena terjadi peningkatan keasaman tanah, salinasi dan pemadatan tanah.
Partoatmodjo (1981), menyatakan bahwa tuntutan akan penambahan bahan makanan memerlukan areal lahan yang lebih luas dan menyebabkan eksploitasi melebihi (over exploitation) lahan berkualitas baik, akibatnya banyak lahan marginal dikikis habis. Jika tanah atas (top soil) lahan marginal tersebut hilang maka yang tertinggal hanyalah daerah tandus.
Tuntutan perluasan pembangunan dalam berbagai sektor, akhirnya tidak bisa menghindari terjadinya konversi lahan pertanian maupun hutan untuk penggunaan lain. Tidak bisa dihindari konversi lahan pertanian yang produktif untuk kepentingan industri dan pemukiman (Sri Kuntjiyati Haryono, 2000).
Akhir-akhir ini terlihat semakin meningkat terjadinya konversi hutan menjadi lahan perkebunan khususnya perkebunan kelapa sawit secara monokultur dalam jumlah yang luas, sehingga dampaknya peran dan fungsi hutan berkurang selain itu terjadi ketidakseimbangan dari berbagai aspek seperti ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan. Erosi merupakan salah satu akibat yang relatif serius dari perubahan alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya (Sumardja, 2000).
IV. SISTEM PRODUKSI PERTANIAN TERPADU RAMAH LINGKUNGAN
Produksi pertanian tanaman pangan maupun tanaman industri/perkebunan yang ramah lingkungan berarti harus mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang. Oleh karena itu praktik budidaya tanaman ramah lingkungan harus mengacu kepada kelestarian atau kemantapan ekosistem. Untuk mewujudkan maksud tersebut beberapa hal yang perlu dipertimbangan antara lain :
1. Pemilihan jenis komoditi pertanian yang dilibatkan dalam sistem
2. Pola tanam dan jadwal tanam yang tepat
3. Skala/luasan masing-masing komoditas yang diusahakan.
Pertimbangan-pertimbangan ini tentu sangat spesifik lokasi, karena masing-masing tipe ekosistem berbeda antara lokasi satu dengan lokasi lainnya. Namun dapat diprediksi bahwa pertanian campuran yang dipilih akan meliputi kegiatan pertanian tanaman pangan, perkebunan/industri, hortikultura, tanaman obat-obatan, perikanan dan peternakan.
Sistem pertanian campuran dapat dilakukan di lahan sawah dan juga di lahan kering. Contoh bentuk pertanian campuran :
1. Sistem Baluran, banyak dilakukan di persawahan lahan pasang surut . Sistem ini mengintegrasikan aneka tanaman di lahan balurannya sedangkan di bagian sawahnya ditanami padi atau dipelihara ikan dan ternak itik.
2. Mina Padi, adalah usaha memelihara ikan di sawah bersama-sama tanaman padi.
3. Agroforestry (Wanatani), merupakan sistem penggunaan lahan yang merupakan keterpaduan pembudidayaan tanaman berumur panjang, tanaman semusim /berumur pendek, peternakan dan atau perikanan dalam sebidang lahan sehingga tercapai kemanfaatan lahan secara optimal. Macam-macam wanatani :
a. Agrosilvikultur, bentuk kombinasi tanaman semusim/pertanian dengan tanaman tahunan.
b. Silvopasture, bentuk kombinasi tanaman tahunan dan peternakan, misalnya tanaman pakan ternak.
c. Agrosilvopasture, kombinasi tanaman semusim, tanaman tahunan dan ternak/pakan ternak.
d. Silvofhishery, bentuk kombinasi tanaman tahunan dengan perikanan.
e. Agrosilvofhishery, bentuk kombinasi tanaman semusim, tanaman tahunan dan perikanan.
Budidaya lorong (alley-cropping) merupakan salah satu bentuk pola tanam dalam sistem agroforestry. Budidaya lorong merupakan sistem pertanaman kombinasi antara tanaman semusim dengan tanaman tahunan dengan penataan tanaman tahunan ditanam dalam larikan atau barisan secara teratur (pagar hidup) sehingga membentuk lorong. diantara barisan tanaman tahunan dapat dimanfaatkan untuk pengusahaan tanaman semusim.
4. Pertanaman ganda, yaitu penanaman beberapa jenis tanaman di lahan yang sama.
5. Pekarangan.
Langganan:
Komentar (Atom)
